Rabu, 26 Juni 2013

PEMUKIMAN WARGA BARUTA DALAM BENTANGAN SEJARAH

Oleh: Syahrul, S.Pd, M.Pd

       Ditinjau dari sudut migrasi pemukiman warga, maka banyak informasi yang dapat menjelaskan permasalahan ini.Selain ingatan kolektif dari masyarakat Baruta, juga keberadaan kuburan-kuburan, bekas rumah, masjid, dan sarana umum lainnya, memberikan kesaksian tersendiri kepada kita bahwa wilayah itu pernah dihuni sebelumnya. Perpindahan pemukiman dapat dipandang sebagai anasir dinamika kehidupan masyarakat akibat bersentuhan dengan tantangan zaman. Sesekali mungkin terbersit pertanyaan dalam pikiran kita, bagaimana aktivitas keseharian mereka?, Bagaimana kondisi pemukiman mereka?, Mengapa mereka harus pindah pemukiman?, Bagaimana dengan busana mereka?, dan banyak pertanyaan lainnya. Dalam ingatan sebagian besar warga menjelaskan bahwa, pemukiman warga Baruta M (Baruta Lestari dan Doda Bahari) sedikitnya telah empat kali mengalami perpindahan, Pemukiman pertama terletak di daerah Dhampu. Di kawasan ini masih dapat kita temui bekas-bekas pemukiman dan pekuburan warga, salah satunya kuburan La Ode hamba yang diperkirakan hidup pada akhir tahun 1700-an sampai pertengahan 1800-an. Oleh karena semakin kuatnya isu penculikkan manusia yang dilakukan bajak laut (tobelo), maka pemukiman kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi dan jauh dari daerah pesisir. Daerah tersebut dinamakan dengan kabawo. Kabawo dalam bahasa pancana menunjukkan daerah di ketinggian. 
         Penempatan pemukiman di dataran tinggi dapat dipandang sebagai upaya menjauhkan diri dari ganguan bajak laut atau tobelo yang saat itu selalu mengintai warga yang bermukim di daerah pesisir, Secara turun – temurundituturkan bahwa setiap warga yang tertangkap Tobelo,akan dijadikan sebagai budak atau komoditi untuk diperdagangkan. Bajak laut (tobelo) menciptakan ketakutan dan rasa was-was sehingga rakyat menjalankan aktivitasnya dalam cengkraman rasa takut. Pada abad ke-18, bajak laut adalah momok yang paling ditakuti di perairan timur Nusantara. Beberapa daerah memperkuat diri dengan persenjataan yang hebat, atau membuat benteng pertahanan yang kokoh, semuanya demi menghadapi bajak laut yang menguasai lautan. Ingatan tentang bajak laut adalah ingatan yang paling traumatik. Mungkin warga Baruta tidak sekaya warga daerah lain yang mampu membeli persenjataan untuk membela diri, mungkin juga warga Baruta tidak sekuat warga lain yang mampu membuat benteng kokoh sebagai tempat berlindung dari serangan tobelo. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan menjauhkan diri dari pesisir agar terhindar dari sergapan bajak laut. Peristiwa penculikan dan perampokan bajak laut ini terdokumentasi baik oleh pemerintah Belanda, seperti yang dituliskan dalam penelitian schrool bahwa Ada ikhtisar sejarah pemerintah Makassar yang dilampirkan pada surat dari Gubernur Jenderal pada 1848 (No.410 Rahasia;ARA II Kolonien, 4347) yang menceritakan bahwa Buton sangat menderita akibat serangan perompak pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 (khususnya pada tahun-tahun 1794, 1797, 1836, dan 1838). (Schrool: 2007: 66) 
       Kawasan Kabawo merupakan dataran tinggi yang dapat menghadirkan rasa aman bagi yang mendiaminya, dari kawasan ini, terlihat jelas perairan yang mengelilingi wilayah Baruta, sehingga jika ada perahu yang mendekat maka segera akan diketahui warga. Bukti-bukti bahwa wilayah ini pernah didiami adalah terdapatnya beberapa kompleks pekuburan masyarakat Baruta M yang tersebar dalam beberapa lokasi, salah satunya adalah kuburan La Ode Poasa atau Ma Samaji.Pada fase ini sebagian besar warga Baruta bermata pencaharian sebagai petani ladang berpindah-pindah.Pemukiman warga belumlah terbentuk seperti pemukiman pada umumnya, rumah-rumah masih tersebar dan saling berjauhan, karena pada saat itu masing-masing warga bertempat tinggal mengikuti lahan perkebunannya.Pada musim ini mereka bertempat tinggal di lahan ini, pada musim berikutnya mereka pindah dan bertempat tinggal pada lahan yang lain. Kemudian, pada 1930-an pemukiman dipindahkan ke Kampung Lama (Liwu), hal ini dilakukan atas dasar perintah dari Pemerintah Belanda agar semua rumah penduduk dipindahkan mendekati jalur jalanraya.
            Tercatat bahwa pada tahun 1941 di Wilayah Baruta terjadi wabah muntaber dan kolera, orang baruta menyebut wabah ini dengan sebutanTa’onu yang membuat seperempat warga Baruta meninggal dunia, seorang informan melukiskan keadaan itu dengan kalimat “belum selesai seorang warga dikuburkan sudah ada lagi warga yang meninggal dunia”. Keadaan ini membuat tokoh-tokoh Kampung Baruta berkumpul dan melakukan upacara tolak bala di kompleks kuburan Sangia Wambulu agar wabah yang menjangkiti masyarakat Baruta segera hilang. 
           Pada tahun 1939 jalan yang menghubungkan Tolandona dengan Siku dibuka, hal ini membuat jalur jalan di kampung lama perlahan-lahan sunyi dan jarang dilewati rombongan yang hendak menuju baubau,kondisi ini lama kelamaan memunculkan keinginandalam hati warga Baruta M untuk memindahkan pemukiman kejalur jalan pesisir barat.Seiring kemajuan zaman, ketakutan akan gangguan tobelo semakin pudar dan teknologi peralatan menangkap ikan semakin dikenal masyarakat Baruta M maka mulai tahun 1953, rombongan pertama La Bege (Ma Faanu) memindahkan rumahnya dari Kampung Liwu ke bagian pesisir barat tepatnya dibagian Napanodhala dengan tujuan untuk mendekatkan tempat tinggalnya dengan laut sebagai sumber kehidupannya. Sebelum terjadi migrasi penduduk menuju pesisir, telah terdapat dermaga atau pelabuhan perikanan yang biasa digunakan oleh warga kampung lama untuk menambatkan perahu dan mendaratkan hasil tangkapannya, pelabuhan ini dikenal dengan nama Napabalano, namun menurut La Inta (Alm) bahwa nama sebenarnya dermaga tersebut adalah Napabaano yang berarti pelabuhan pertama. Begitu pula warga yang berada di sekitar Melaano (daerah SMP Baruta sekarang) memindahkan rumahnya menuju pesisir timur. Rombongan pertama yang menuju pesisir timur adalah keluarga Laafi,disusul La Parindi, La Onda, La Tenda dan keluarga lainnya. Mereka menjadikan lokasi didepan masjid Doda Bahari Sekarang sebagai dermaga awal mereka. Dengan adanya migrasi warga menuju pesisir barat dan timur maka tahun 1966 sarana umum seperti sekolah dan masjid ikut pula dipindahkan.Daerah baru yang dihuni di pesisir barat kemudian dikenal dengan nama Kafoofo, sedangkan migrasi di daerah pesisir timur dikenal dengan nama Doda (Hodha). Penamaan Kafoofo merujuk pada adanya sebuah pohon mangga besar yang tumbuhdi daerah itu, sedangkan Hodha (Doda) merujuk pada tempat yang ditumbuhi pohon Hodha. Penamaan dengan menggunakan nama sebuah pohon adalah lumrah digunakan pada masa itu, seperti halnya daerah Gu menunjukkan banyak pohon Gu,dan Kaobula berarti banyak pohon Kaobula yang tumbuh di daerah tersebut. 
           Pada tahun 1999 di daerah Ambon Provinsi Maluku terjadi kerusuhan berdarah yang memaksa sejumlah penduduk Baruta yang bermukim di Ambon untuk pulang kampung menyelamatkan diri dan mencari perlindungan.Melalui Program Departemen Sosialmaka pada tahun 2001, penduduk yang menjadi korban kerusuhan Ambon diberikan bantuan pemukiman berupa rumah.Maka dibukalah beberapa kawasan pemukiman baru di wilayah Baruta untuk menampung pengungsi tersebut. Di wilayah Desa Baruta Lestari, pengungsi Ambon di tempatkan di daerah Siku yang berjarak kurang lebih 2 km dari Pemukiman Baruta Lestari.Sebelumnya kawasan ini merupakan lahan kosong dan kawasan kebun warga.Untuk wilayah Desa Baruta, Baruta Analalaki, dan Doda Bahari, pengungsi Ambon ditempatkan di beberapa kawasan yang masih tersambung dengan pemukiman awal masing-masing desa. Dinamika migrasipemukiman di wilayah Baruta Analalaki (Ha’iya dan Manuru) tidaklah mengalami perubahan berarti seperti perkampungan Baruta Maradika, hal ini disebabkan letak geografis Ha’iya yang terletak di atas bukit,sangatlah strategis dan menghadirkan rasa aman bagi yang menghuninya, ketersedian sumber mata air yang melimpah di sekitar kawasan pemukiman, menambah keengganan warga untuk memindahkan pemukimannya ke tempat lain. Begitu pula halnya dengan pemukiman Manuru yang terletak di sekitar pesisir, memudahkan warganya dalam memanfaatkan laut sebagai sumber kehidupan warga, juga letak daerah ini tidak terlalu jauh dari sumber mata air yang terletak di Ha’iya. 
          Sebelum tahun 1972, pemukiman di wilayah Baruta Analalaki tersebar sejajar antara pelabuhan wamagote sampai jalan menuju sumur umum Baruta sekarang.Baruta Analalaki bagian atas disebut Ha’iya yang berarti pemukiman digunung/hutan, sedangkan bagian bawah dekat pelabuhan wamagote dikenal dengan nama dhumu. Pada umumnya warga yang bermukim di kedua daerah ini, masih memiliki hubungan keluarga. Penyebutan Haiya lazim digunakan oleh warga kafoofo dan hodha, sedangkan warga manuru menyebutnya dengan liwu. Pada tahun 1972 terjadi peristiwa yang menggemparkan masyarakat Baruta dan sekitarnya.Di sebelah utara pemukiman warga Baruta analalaki telah terjadi bencana tanah longsor yang menewaskan 7 orang warga yang berkebun di bawah tebing yang longsor tersebut. Peristiwa ini dikenal dengan Katobha Aata’a yang berarti tanah longsor Aata’a.Aata’a (La Ta’a) merupakan nama pemilik kebun yang menjadi korban tanah longsor tersebut. Menurut penuturan penduduk bahwa sebenarnya anggota keluarga yang berkebun di daerah itu berjumlah 9 orang, namun pada saat peristiwa longsor terjadi, 2 anggota keluarga lainnya sementara berada di pasar Palabusa, sehingga yang menjadi korban meninggal cuma 7 orang. La Ta’a merupakan penduduk kadie Bombonawulu yang berkebun di wilayah Baruta. Akibat adanya bencana longsor ini, maka pemerintah menganjurkan penduduk untuk memindahkan pemukimannya sejauh 1,5 km dari pusat longsoran La Ta’a. Sehingga masyarakat yang bermukim di kawasan dhumusebagian dipindahkan ke bagian selatan,maka terbukalah sebuah pemukiman baru yang kemudian dinamakan dengan daerah Manuru (Penamaan Manuru diberikan oleh La Ode Raja Ika selaku Kepala Desa saat itu). Relokasi ini dilakukan karena kawasan dhumu masuk dalam kawasan rawan longsor.Alur migrasi pemukiman dapat dilihat pada gambar berikut. 

  Gambar 8;
 Peta Migrasi Pemukiman Penduduk 

 Gambar 9. Foto Satelit Wilayah Baruta tahun 2007 

 Gambar 10. Foto Satelit Desa Baruta dan Baruta Analalaki 

 Gambar 11. Foto Satelit Desa Baruta Lestari 

 Gambar 12. Foto Satelit Desa Doda Bahari 


Keadaan alam Baruta yang cenderung tandus dan berbatu, tentu sangat tidak kondusif untuk dijadikan sebagai lahan pertanian, kondisi ini menyebabkan sebagian warga Baruta Induk dan Baruta Analalaki (Manuru) memilih memanfaatkan daerah Kolagana yang terletak di seberang laut daerah Baruta,untuk dijadikan sebagai lahan perkebunan karena daerah ini memiliki tingkat kesuburan tanah yang lebih baik dari tanah Baruta. Hal inilah yang menjadi awal tersebarnya beberapa warga Baruta Analalaki di beberapa daerah seperti Palabusa, Wonco, dan Kolagana. Menurut beberapa informan menjelaskan bahwa 80% warga Kolagana adalah orang Baruta, fakta ini diperkuat dengan logat bahasa yang digunakan warga kolagana sama dengan logat bahasa Baruta Analalaki, dan juga warga kolagana masih memiliki hubungan keluarga dengan warga Baruta, dalam beberapa kesempatan orang Kolagana sering mengakui dirinya sebagai orang Baruta.
 **** 
KEADAAN DEMOGRAFIS 
1. Jumlah Penduduk 
        Data yang menjelaskan jumlah penduduk Daerah Baruta sebelum tahun 1988 sangat minim sekali. Dokumen tertua yang penulis dapatkan adalah dokumen yang mengulas jumlah wajib pajak kampung Baruta Maradika dan Baruta Analalaki tahun 1916 bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Dayanu Ikhsanu Kaimuddin, sultan ke 34.Pada saat itu kedua kampung di Baruta masuk dalam pemerintahan Distrik Gu yang dikepalai oleh La Ode Madi dengan gaji sebulan Rp. 50, Data ini penulis cantumkan sebagai bahan perbandingan tingkat perkembangan penduduk dalam daerah Baruta. 

Tabel 1 
Daftar Nama Kampung, Jumlah Wajib Pajak Tahun 1916 
 
Berdasarkan tabel diatas dapat kita simpulkan bahwa total wajib pajak kedua kampung di Baruta berjumlah 247 jiwa, Seandainya jumlah tersebut diasumsikan sebagai jumlah Kepala Keluarga (KK),dan dirata-ratakantiap keluarga beranggotakan 4jiwa, maka penulis perkirakan jumlah penduduk tahun 1916 yang mendiami kedua kampung di Baruta adalah 988 jiwa, dengan rincian penduduk yang bermukim di daerah Baruta Analalaki berjumlah 564 jiwa dan Baruta Maradika berjumlah 424 jiwa. 
         Pada bulan November 1988, melalui pendataan lokal tercatat bahwa penduduk desa Baruta berjumlah 2290 jiwa yang terdiri dari 429 Kepala keluarga terdiri dari 1083 pria dan 1207 wanita. Jumlah penduduk dalam data ini tidak termasuk dengan warga Baruta yang bermukim di daerah perantauan. Kalau warga Baruta di perantauan disertakan dalam perhitungan ini, maka penulis memperkirakan jumlah penduduk Baruta pada saat itu berjumlah  3500 Jiwa. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwadalam kurunwaktu 72 tahun, pertambahan penduduk Baruta mencapai2.512 jiwa.Dengan memperhatikan jumlah ini sebenarnya tingkat pertumbuhan penduduk di Baruta terbilang rendah, namun, bisa saja pertambahan penduduk Baruta yang rendah ini disebabkan oleh peristiwa wabah Ta’onu tahun 1941 yang menewaskan seperempat warga Baruta, sehingga peristiwa ini berpengaruh besar pada jumlah penduduk tahun 1988 yang cuma mencapai 3500 jiwa saja. 

 Tabel 2 
Keadaan Penduduk Desa Baruta berdasarkan klasifikasi umur Tahun 1988 

 ****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar