Oleh: Syahrul, S.Pd, M.Pd
Di
kalangan warga Baruta sendiri, masih terdapat pemahaman yang keliru terhadap arti
kedua istilah ini. Tak jarang pemahaman tidak berdasar tersebut menggiring merekapada
upaya merendahkan dan memberi stigma negatif kepada pihak lain, dan begitu pula
sebaliknya. Padahal, jika ditelusuri garis keturunan dari warga kedua kampung
ini maka masih sangat jelas sekali pertautannya. Dengan kata lain, jika seseorang
merendahkan yang lain maka sama saja ia merendahkan dirinya ataupun keluarganya
sendiri. Olehnya itu, dalam tulisan ini penulis ingin memberi gambaran singkat tentang
latar belakang penamaan kedua kampung ini berdasarkan informasi dari beberapa sumber.
Menurut
penuturan lisan dari La Ode Sadjarah Munta (Lakina Baruta VIII) menjelaskan
bahwa penamaan Maradika berlatar belakang adanya pembebasan (merdeka) dari
kewajiban membayar weti (pajak zaman
Kesultanan Buton), karena disebabkan oleh setiap kali pembesar dari Wolio ingin
memadamkan pemberontakan di daerah Bombonawulu dan Wuna maka selalu mengambil
pemuda-pemuda Baruta sebagai prajurit pendamping, atas jasanya itu maka daerah
tersebut dinamakan Baruta Maradika yang berarti Baruta yang dimerdekakan dari
kewajiban membayar weti, sekaligus
sebagai pembeda dari Baruta lainnya.
Pengambilan
warga Baruta sebagai prajurit bisa saja disebabkan oleh posisi Baruta yang terletak
di jalur menuju negeri Bombonawulu dan Wuna. Hal ini sejalan dengan yang
dituliskan Zahari (1977: 46) bahwa Limbo dan Analalaki adalah Kaum Walaka dan
bangsawan yang derajat kebangsawanannya diturunkan setingkat lebih rendah. Asal
mulanya terjadi di masa Sultan Dayanu Ikhsanuddin sebagai akibat dari tidak
turutnya lagi mereka dalam pertemuan pengundangan Murtabat Tujuh oleh Sapati La
Singga atas nama Kerajaan. Maka dikenallah kemudian beberapa daerah yang tidak
menghadiri dengan Limbo Peropa, Limbo Waberongalu, Limbo Waborobo dan Limbo Baruta Maradika. Di Limbo ini
umumnya yang menjadi penduduknya adalah mereka yang berasal dari kaumWalaka. Dan Analalaki dikenal dengan Baruta Analalaki, Batubanawa,
Mawasangka, Kambolosua, Kapontori, Watuoge, Waopini, Masiri, dan Todombulu.
Mereka tidak lagi mempunyai hak yang sama dengan kaumnya bangsawan dan walaka untuk menduduki jabatan adat,
tetapi juga kepada mereka tidak boleh diperlakukan seperti papara (rakyat umum), seperti dikenakan sewa tanah, dipungut weti
dan lain-lain menurut kewajiban dari papara.
Tetapi bila syarat kerajaan memerlukan
lasykar, kaum Limbo dan Analalakilah yang didahulukan, dan bila belum cukup
juga cukup barulah diambil dari kaum Papara, Demikianlah pula bila syarah
membutuhkan uang untuk pembeli persenjataan perang penduduk Limbo dan
Analakilah yang didahulukan.
Dalam
sejumlah dokumen yang lebih tua, seperti Sarana
Wolio (konstitusi), tertanggal paruh pertama abad ke-19, istilah maradika (“orang merdeka”) juga
dipergunakan. Mereka diturunkan dari garis bapak para pendiri Kesultanan Buton
melalui suatu sistem perkawinan – seorang laki-laki kaomu dapat mengawini seorang perempuan walaka – mereka berhubungan erat dengan golongan bangsawan itu.
(Schrool, 2007: 39).
Selanjutnya,
dalam menafsirkan istilah Baruta Analalaki sebagai sebuah nama dari suatu
daerah, terdapat dua pandangan yang dapat menjelaskannya, yaitu: Versi pertama menguraikan
bahwa nama Baruta Analalaki sebenarnya berasal dari kata Barutanalalaki (Barutana-lalaki), yang secara harfiah bermakna
Barutanya Ksatria. Namun, seiring berdenyutnya waktu yang mengiringi kehidupan warga
Baruta, maka pelafalan Barutanalalaki berubah
bunyi menjadi Baruta Analalaki. Lalaki
atau Ksatria di sini merujuk kepada sosok Sangia Wambulu yang sakti mandraguna (nomoane). Beliau ditugaskan di tanah
Baruta untuk menghadang gerak musuh yang mencoba menyerang Wolio. Bagian daerah
Baruta yang ditinggali oleh Sangia Wambulu kemudian dinamakan denganBarutana Lalaki. Dari tinjauan ini, melahirkan
suatu prognosa bahwa karena di sisi derajat kebangsawanan Sangia Wambulu adalah
seorang dari golongan kaomu, maka mungkin
saja bagian Baruta lain yang tidak ditempatinya dinamakan dengan Baruta
Maradika (Walaka).
Pandangan
lain menjelaskan bahwa, Analalaki merupakan nama dari salah satu kasta antara. Analalaki
berarti penurunan derajat kebangsawanan satu tingkat dari kaomu ke kasta antara tetapi tidak sampai ke kasta papara seperti yang dijelaskan pada
paragraf sebelumnya. Penurunan derajat kebangsawanan ini disebabkan oleh ketidakhadiran
warga Baruta A dalam pertemuan pengundangan Martabat Tujuh oleh Sapati La
Singga di Keraton Wolio. Dalam daerah Baruta Maradika dan Baruta Analalaki pada
umumnya yang menjadi penduduknya adalah kaum walaka dan bangsawan (Zahari, 1977: 46).
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar