Selasa, 25 Juni 2013

MENYINGKAP TIRAI MAKNA BARUTA MARADIKA DAN BARUTA ANALALAKI


Oleh: Syahrul, S.Pd, M.Pd

Di kalangan warga Baruta sendiri, masih terdapat pemahaman yang keliru terhadap arti kedua istilah ini. Tak jarang pemahaman tidak berdasar tersebut menggiring merekapada upaya merendahkan dan memberi stigma negatif kepada pihak lain, dan begitu pula sebaliknya. Padahal, jika ditelusuri garis keturunan dari warga kedua kampung ini maka masih sangat jelas sekali pertautannya. Dengan kata lain, jika seseorang merendahkan yang lain maka sama saja ia merendahkan dirinya ataupun keluarganya sendiri. Olehnya itu, dalam tulisan ini penulis ingin memberi gambaran singkat tentang latar belakang penamaan kedua kampung ini berdasarkan informasi dari beberapa sumber.
Menurut penuturan lisan dari La Ode Sadjarah Munta (Lakina Baruta VIII) menjelaskan bahwa penamaan Maradika berlatar belakang adanya pembebasan (merdeka) dari kewajiban membayar weti (pajak zaman Kesultanan Buton), karena disebabkan oleh setiap kali pembesar dari Wolio ingin memadamkan pemberontakan di daerah Bombonawulu dan Wuna maka selalu mengambil pemuda-pemuda Baruta sebagai prajurit pendamping, atas jasanya itu maka daerah tersebut dinamakan Baruta Maradika yang berarti Baruta yang dimerdekakan dari kewajiban membayar weti, sekaligus sebagai pembeda dari Baruta lainnya.
Pengambilan warga Baruta sebagai prajurit bisa saja disebabkan oleh posisi Baruta yang terletak di jalur menuju negeri Bombonawulu dan Wuna. Hal ini sejalan dengan yang dituliskan Zahari (1977: 46) bahwa Limbo dan Analalaki adalah Kaum Walaka dan bangsawan yang derajat kebangsawanannya diturunkan setingkat lebih rendah. Asal mulanya terjadi di masa Sultan Dayanu Ikhsanuddin sebagai akibat dari tidak turutnya lagi mereka dalam pertemuan pengundangan Murtabat Tujuh oleh Sapati La Singga atas nama Kerajaan. Maka dikenallah kemudian beberapa daerah yang tidak menghadiri dengan Limbo Peropa, Limbo Waberongalu, Limbo Waborobo dan Limbo Baruta Maradika. Di Limbo ini umumnya yang menjadi penduduknya adalah mereka yang berasal dari kaumWalaka. Dan Analalaki dikenal dengan Baruta Analalaki, Batubanawa, Mawasangka, Kambolosua, Kapontori, Watuoge, Waopini, Masiri, dan Todombulu. Mereka tidak lagi mempunyai hak yang sama dengan kaumnya bangsawan dan walaka untuk menduduki jabatan adat, tetapi juga kepada mereka tidak boleh diperlakukan seperti papara (rakyat umum), seperti dikenakan sewa tanah, dipungut weti dan lain-lain menurut kewajiban dari papara. Tetapi bila syarat kerajaan memerlukan lasykar, kaum Limbo dan Analalakilah yang didahulukan, dan bila belum cukup juga cukup barulah diambil dari kaum Papara, Demikianlah pula bila syarah membutuhkan uang untuk pembeli persenjataan perang penduduk Limbo dan Analakilah yang didahulukan.
Dalam sejumlah dokumen yang lebih tua, seperti Sarana Wolio (konstitusi), tertanggal paruh pertama abad ke-19, istilah maradika (“orang merdeka”) juga dipergunakan. Mereka diturunkan dari garis bapak para pendiri Kesultanan Buton melalui suatu sistem perkawinan – seorang laki-laki kaomu dapat mengawini seorang perempuan walaka – mereka berhubungan erat dengan golongan bangsawan itu. (Schrool, 2007: 39).
Selanjutnya, dalam menafsirkan istilah Baruta Analalaki sebagai sebuah nama dari suatu daerah, terdapat dua pandangan yang dapat menjelaskannya, yaitu: Versi pertama menguraikan bahwa nama Baruta Analalaki sebenarnya berasal dari kata Barutanalalaki (Barutana-lalaki), yang secara harfiah bermakna Barutanya Ksatria. Namun, seiring berdenyutnya waktu yang mengiringi kehidupan warga Baruta, maka pelafalan Barutanalalaki berubah bunyi menjadi Baruta Analalaki. Lalaki atau Ksatria di sini merujuk kepada sosok Sangia Wambulu yang sakti mandraguna (nomoane). Beliau ditugaskan di tanah Baruta untuk menghadang gerak musuh yang mencoba menyerang Wolio. Bagian daerah Baruta yang ditinggali oleh Sangia Wambulu kemudian dinamakan denganBarutana Lalaki. Dari tinjauan ini, melahirkan suatu prognosa bahwa karena di sisi derajat kebangsawanan Sangia Wambulu adalah seorang dari golongan kaomu, maka mungkin saja bagian Baruta lain yang tidak ditempatinya dinamakan dengan Baruta Maradika (Walaka).
Pandangan lain menjelaskan bahwa, Analalaki merupakan nama dari salah satu kasta antara. Analalaki berarti penurunan derajat kebangsawanan satu tingkat dari kaomu ke kasta antara tetapi tidak sampai ke kasta papara seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Penurunan derajat kebangsawanan ini disebabkan oleh ketidakhadiran warga Baruta A dalam pertemuan pengundangan Martabat Tujuh oleh Sapati La Singga di Keraton Wolio. Dalam daerah Baruta Maradika dan Baruta Analalaki pada umumnya yang menjadi penduduknya adalah kaum walaka dan bangsawan (Zahari, 1977: 46).

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar